Lewati ke konten

Peran Orang Tua dalam Pernikahan: Tugas Ayah dan Ibu

28 Oktober 2026 · 5 mnt baca

Peran orang tua dalam pernikahan disepakati, bukan diwariskan: satu pembicaraan di awal, paling baik saat membahas biaya, memberi tiap orang tua dua atau tiga tugas bernama. Ayah mempelai perempuan menjadi wali di akad, kedua pasang orang tua menjadi tuan rumah resepsi, ibu mengelola daftar tamu pihaknya dan menyambut di pintu, dan keluarga menunjuk siapa yang memegang buku tamu dan catatan amplop. Di hari H orang tua adalah tuan rumah dan pengantin adalah tamu kehormatan. Di bawah ini tugas yang memang paling dikuasai orang tua, hal yang sebaiknya tidak mereka lakukan, dan cara mencegah konflik klasik sebelum dimulai.

Peran disepakati, bukan diasumsikan

Sebagian besar gesekan antara pengantin dan orang tua bukan soal selera, melainkan soal asumsi. Ibu yang tidak diberi tugas apa pun mengasumsikan semua urusan adalah tanggung jawabnya, lalu ikut campur di semua hal; atau mengasumsikan tidak ada yang jadi urusannya, lalu tersinggung. Solusinya satu pembicaraan di awal persiapan, dengan kedua keluarga, yang hasilnya tiap orang tua pulang membawa tugas tertulis. Waktu paling tepat adalah pembicaraan biaya: siapa membayar apa berkaitan erat dengan siapa memutuskan apa, dan memisahkan keduanya menciptakan konflik kedua. Siapa yang membiayai pernikahan menjelaskan pembagian yang lazim di keluarga kita, dan kalkulator anggaran pernikahan memberi angka untuk dibicarakan, bukan kesan.

Tugas yang orang tua kerjakan lebih baik dari siapa pun, karena mereka mengenal orang-orangnya, bukan karena mereka lebih tua:

Akad, resepsi, dan meja penerima tamu

Di akad nikah, ayah mempelai perempuan punya peran yang paling jelas: ia wali yang menikahkan, atau yang mewakilkan kepada penghulu, dan ia yang menerima rombongan keluarga mempelai laki-laki saat tiba. Ibu mempelai perempuan mendampingi anaknya dan mengatur tamu perempuan di ruang akad; orang tua mempelai laki-laki memimpin rombongan dan membawa seserahan. Urutan lengkapnya ada di susunan acara akad nikah. Di resepsi, kedua pasang orang tua berdiri di pelaminan di sisi pengantin dan menjadi tuan rumah untuk tamu pihak masing-masing, sementara meja penerima tamu dipegang oleh saudara atau sepupu yang ditunjuk orang tua, biasanya dua dari tiap pihak, supaya buku tamu, souvenir, dan kotak amplop ada yang menjaga. Kalau ada ngunduh mantu, keluarga mempelai laki-laki menjadi tuan rumah penuh untuk acara itu. Tiap keluarga punya kebiasaannya sendiri; yang penting disebutkan dengan jelas sebelum hari H siapa memegang apa, supaya tidak ada dua ayah di pintu yang sama sementara pintu lain kosong.

Hari H: orang tua adalah tuan rumah

Menjadi tuan rumah bukan gelar, melainkan rangkaian tindakan kecil: berdiri di pintu pada jam pertama, mendudukkan saudara sendiri di tempat yang benar, memperkenalkan dua keluarga dengan nama, mengecek tamu sepuh lebih dari sekali, dan menjadi nama yang dipanggil koordinator gedung atau WO saat butuh keputusan. Pengantin tidak bisa melakukannya: mereka sedang sesi foto, lalu prosesi masuk, lalu di pelaminan menerima salaman selama dua jam. Siapa yang memperkenalkan tante dari Bandung kepada budhe dari Solo? Ibu. Siapa yang sadar meja eyang belum dapat minum? Ayah.

Pengantin tidak bisa menjadi tuan rumah pernikahannya sendiri, karena mereka ada di dalamnya; orang tua bisa.

Sepakati pembagian sederhana dengan orang tua: tiap orang tua memegang satu pintu, satu area, atau satu jam. Dan beri koordinator gedung serta fotografer selembar kertas berisi empat nama dan empat nomor HP: merekalah yang ditanya saat Anda berdua tidak bisa dihubungi. Siapa yang mendampingi orang tua dalam tugas-tugas kecil ada di tugas bridesmaid dan groomsmen.

Yang sebaiknya tidak dilakukan orang tua

  1. Mengubah keputusan vendor tanpa pengantin: tidak meminta katering mengganti menu atau band mengganti lagu karena salah satu orang tua merasa itu lebih baik.
  2. Mengundang lagi nama yang sudah dicoret: yang sudah disepakati dicoret tidak diundang secara lisan di arisan. Kursi dan porsi ada harganya, dan kejutan di pintu lebih buruk daripada permintaan maaf sejak awal.
  3. Mengambil mikrofon tanpa rencana: sambutan yang disepakati disambut baik; pidato spontan di tengah live music tidak.
  4. Mengarahkan fotografer: daftar foto ditulis di awal dan fotografer menjalankannya. Ayah yang berdiri di belakang fotografer dan meminta "satu lagi" menghabiskan seluruh sesi.

Supaya daftar ini tidak jadi perang, pakai aturan satu permintaan: tiap orang tua menyebut satu hal yang tidak bisa ditawar, satu lagu, satu kerabat, satu prosesi adat, dan itu dipenuhi tanpa debat. Sisanya keputusan pengantin. Empat permintaan yang pasti dipenuhi menenangkan semua orang lebih dari empat puluh usulan yang menggantung.

Foto dua keluarga dalam satu album

Ada masalah kecil yang muncul setelah hampir setiap pernikahan: saudara mempelai perempuan memotret saudara mempelai perempuan, saudara mempelai laki-laki memotret saudara mempelai laki-laki, dan tiap keluarga berakhir dengan separuh pesta di HP-nya tanpa pernah melihat separuh lainnya. Solusinya dua hal: satu QR code di meja penerima tamu dan meja-meja yang mengumpulkan foto kedua pihak ke satu album yang diterima kedua keluarga sekaligus, dan daftar foto keluarga yang ditulis orang tua supaya fotografer tahu siapa dikumpulkan dengan siapa. Di sini ada tugas khusus orang tua: merekalah yang tahu eyang harus difoto sebelum pulang jam sembilan, dan merekalah yang bisa mengumpulkan pakde dan bulik sebelum tercerai ke prasmanan.

Kesimpulan

Satu pembicaraan di awal, dua atau tiga tugas bernama untuk tiap orang tua, aturan satu permintaan, dan pembagian yang jelas untuk akad, resepsi, dan meja penerima tamu. Di hari H orang tua adalah tuan rumah di pintu dan di pelaminan, pengantin tamu kehormatan. Lalu pastikan semua foto sampai ke kedua keluarga sekaligus: buat album pernikahan Anda dan berikan QR code yang sama kepada kedua pasang orang tua sebelum hari H, supaya album dimulai dari tamu pertama yang masuk.